analisis teknikal sederhana: WIKA


per tgl 18 12 2017, analisis profesional @ tren harga saham WIKA: 
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) pada kuartal III-2017 cukup kuat. Namun, ada potensi pelambatan proyek kereta cepat alias high-speed railway (HRS) Jakarta-Bandung. Hal ini disinyalir akan membebani emiten konstruksi pelat merah ini.
Sekadar mengingatkan, proyek HRS Jakarta-Bandung yang dikerjakan di bawah konsorsium Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) memiliki nilai kontrak sebesar Rp 15,68 triliun. Konsorsium tersebut terdiri dari tujuh perusahaan yakni China Railway International, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), China Rail Way Group Limited, Sinohydro Corporation Limited, CRCC Wingdao Sifang Co, Ltd, China Railway Signal & Communication Corporation dan The Third Railway Survey Design Institute Group Corporation. WIKA menggenggam porsi 30% dari nilai kontrak enginering, procurement, construction (EPC) ini.
Melalui konsorsium ini, KCIC berhasil mendapatkan restu pendanaan dari China Development Bank (CDB) sejak April lalu. Namun analis Mirae Asset Sekuritas Franky Rivan menjelaskan, kucuran kredit belum terlihat sama sekali dan dapat menyeret kas emiten.
"WIKA saat ini sedang menunggu penyaluran kredit dari China Bank Development sebanyak US$ 700 juta," jelas Franky, Senin (18/12).
Aurelia Barus, analis CIMB Sekuritas dalam riset 7 Desember lalu juga menyoroti lambatnya pencairan pinjaman. Menurutnya, CDB telah meminta dokumen tambahan mengenai persetujuan dari seluruh konsesi pemegang modal lantaran terjadi kenaikan pada nilai kontrak.
Memang, nilai kontrak konstruksi kereta cepat sepanjang 142,3 kilometer (km) ini telah membengkak menjadi US$ 4,7 miliar dari perkiraan sebelumnya di US$ 4,3 miliar.
"Akibatnya proyek ini terlambat hingga hampir dua tahun. Kami berasumsi penyaluran kredit akan terjadi pada tahun 2018," papar Aurelia dalam risetnya. Asal tahu saja, peletakan batu pertama proyek ini sudah dilakukan pada Januari 2016 lalu.
Bagi Franky dan Aurelia, hal ini membuat mereka memangkas rekomendasi saham WIKA dari semula buy menjadi hold. Franky memberi target harga di Rp 1.980, sementara Aurelia memasang target harga Rp 1.645 per saham.
🌴
per tgl 15 12 2017, tren harga saham WIKA @ 1590 (penutupan): 

per tgl 13 12 2017, trading saham WIKA @ warteg ot B, berlaba lage (IJO): 

per tgl 12 12 2017, trading saham WIKA gw @ warteg ot B, sbb: 
tuh khan, harga jual saham WIKA gw sementara @ 1510, berarti di atas AVG @ 1505.71, berlaba ya :)

O=order; M= full matched order; A= ammended order. Gw mulai jual @ 1575, trus mulai beli 1570. Lanjut beli s/d 1510 (bahkan s/d 1495, seh), lanjut jual @ 1565, 1560, 1555, 1520, 1515, 1510, 1505, n 1500. Strategi FLDTT gw terapkan: harga turun gw beli, harga mantul naek gw jual. Laba dari selisih harga beli n jual itu yang gw terapkan. 
🍉

per tgl 11-12 Desember 2017, koreksi harga saham WIKA turun k bawah 1600, berarti balek lage menuju area 1500an, yang pernah terekspektasi secara teknikal @ per tgl 06 Desember 1017.

per tgl 08 Desember 2017, tanda-tanda pembalikan arah tren harga saham WIKA (bersama saham konstruksi laennya) mulai terjadi, naek tuh: 

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Setelah berkali-kali mencetak rekor harga terendah (new low), saham emiten konstruksi pelat merah kembali menghangat. Kamis (7/12), empat saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kompak menguat.
PT Waskita Karya Tbk (WSKT) berhasil mencatatkan kenaikan tertinggi, 85 poin, setara 4,55% ke level Rp 1.955 per saham. Kepala Riset OSO Sekuritas Riska Afriani menjelaskan, kenaikan terjadi karena sentimen penerbitan obligasi global pemerintah. "Ini sedikit memberikan sentimen positif untuk pendanaan infrastruktur tahun depan,"ujarnya, Kamis (7/12).
Seperti diketahui, pemerintah melakukan penarikan utang di awal (pre-funding) untuk APBN 2018 dengan menerbitkan surat utang negara (SUN) berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS) senilai US$ 4 miliar menggunakan format SEC-Registered Standalone. Obligasi global ini ditawarkan di bursa AS dan dicatatkan pada Bursa Singapura dan Bursa Frankfurt.
Sejatinya, fundamental ke empat emiten pelat merah tersebut masih solid. Kondisi keuangan emiten konstruksi ini pun masih sehat untuk mencari pendanaan eksternal. Sehingga, harga sahamnya saat ini tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya.
Hitungan Riska, WSKT memiliki harga wajar Rp 2.510 per saham, ADHI di harga wajar Rp 2.150 per saham. Sedangkan, harga wajar untuk PTPP dan WIKAmasing-masing Rp 3.300 dan Rp 2.370 per saham.
Namun, pasar terlanjur panik soal cashflow ke empat emiten tersebut. Bahkan, tak sedikit yang mengkhawatirkan proyek yang tengah dikerjakan terhenti.
Franky Rivan, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, menambahkan, masih ada sejumlah hal yang menjadi tantangan. Apalagi secara historis, harga saham konstruksi hampir tidak pernah bullish selama tahun pra-pemilu.
Atas dasar tersebut, Franky menurunkan rekomendasi sektor konstruksi menjadi underweight dari netral. Ia juga memangkas rekomendasi saham WIKA, PTPP dan WSKT dari buy dan trading buy menjadi hold. Target harganya masing-masing Rp 1.980, Rp 2.810, dan Rp 2,390 per saham. Hanya ADHI yang rekomendasinya tidak berubah, masih hold dengan target Rp 2.170 per saham.
🐤

per tgl 06 Desember 2017, JENUH JUAL @ tren harga saham WIKA TIDAK MEMBATASI gerak turun harga k 1600, bahkan mungkin k 1500 lage : 


per tgl 04 Desember 2017, JENUH JUAL @ tren harga saham WIKA, amat jelas: 
ekspektasi: stochastic jenuh jual, bearish jangka pendek @ moving avg 20D, parabolic sar jelas menunjukkan tekanan jual ... 1700, 1650 jadi support terkuat seh @ tren turun harga saham wika dalam jangka pendek ... liat aza, moga2 bisa k 1800 lage dalam jangka pendek, bahkan menuju 2K pada kuartal pertama 2018 ... liat2 aza lah :)
🌱
stochastic: memasuki area JENUH BELI @ 2K, batas psikologis tren harga saham WIKA... mase ada daya dorong beli seh, kuat lah, ati2 seh
bollinger band: batas atas 2055 sbenernya dah tembus, tapi lalu terkoreksi karna JENUH BELI
parabolic sar: momentum beli mase tersedia, kuat
ekspektasi terkoreksi turun k 1975 lebe wajar terjadi, dibandingkan dengan turun k 1950, apalagi k support psikologis 1900 ... modal kerja WIKA n pemasukan dari anak usaha, Wika Gedung, Wika Beton, n Wika Realty, moga-moga mendorong kenaekan harga saham WIKA akibat PER yang lebe baek, ekspektasi k 2250, 2300, n 2430 bukan mimpi
🌸

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mirae Asset Sekuritas Indonesia masih mempertahankan rekomendasi buy saham PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Target harga yang ditetapkan sebesar Rp 2.640 per saham.
Franky Rivan, analis Mirae Asset Sekuritas mengatakan optimistis kinerja WIKA hingga September 2017 masih sesuai dengan estimasi. Pendapatan perusahaan diprediksi sebesar Rp 5,54 triliun, sementara laba bersih Rp 291,3 miliar.
"Kami percaya kinerja WIKA akan sesuai dengan perkiraan optimistis kami," kata Franky dalam riset, Selasa (21/11). Laporan kinerja WIKA masih dalam proses limited review. Paling lambat akhir bulan ini laporan tersebut akan dirilis.
Franky mendasari optimismenya berdasarkan perkembangan perolehan kontrak baru WIKA. Salah satunya, proyek Inner Jakart LRT senilai Rp 5,3 triliun dan MRT Jakarta senilai Rp 3 triliun.
Proyek Inner Jakarta LRT progresnya sebesar 50,34% pada minggu pertama November. Target sebelumnya sebesar 45,19%.
"Menurut kami, kinerja pendapatan kuartal III-2017 akan bagus dan peluang kontrak baru yang besar di masa depan," pungkas Franky.
🍅

Indeks harga saham gabungan (IHSG) akhirnya menorehkan sejarah baru, menembus level 6.000 kemarin. Rekor baru IHSG kembali tercipta, didorong kombinasi positifnya sentimen di pasar saham AS dari sisi global, serta melonjaknya laba emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Pada penutupan perdagangan di BEI, Rabu (25/10), IHSG mencetak rekor baru ke level 6.025,4, setelah menguat 1,2% atau 73,4 poin. Asing juga kembali masuk pasar, dengan membukukan net buy (pembelian bersih) saham Rp 130,4 miliar.

Lonjakan IHSG tersebut tak lepas dari dampak masih bullish-nya pasar saham Wall Street, dengan antara lain didorong makin kuatnya peluang anggota Dewan Gubernur Federal Reserve System Jerome H Powell menjadi gubernur bank sentral AS yang baru. Figur Powell ini dikenal mendukung upaya ekspansif The Fed untuk menstimulus pertumbuhan ekonomi.

Selain itu, pasar bergairah karena pajak korporasi AS bakal dipangkas dari 35% ke 20%. Indeks Nasdaq dan indeks S&P 500 pun masih naik pada penutupan perdagangan Selasa (24/10) waktu setempat.

Dari dalam negeri, laporan keuangan emiten-emiten kuartal III tahun ini sangat cemerlang, dengan bintangnya adalah emiten perbankan. Sebut saja bank papan atas PT Bank Mandiri Tbk, yang meraup laba bersih Rp 15,1 triliun hingga kuartal III-2017, melonjak 25,4% dibandingkan periode sama tahun lalu. Hal ini seiring kredit yang tumbuh 9,8% year on year, menjadi Rp 686,15 triliun.

Secara umum, harga saham-saham emiten sektor keuangan itu sudah melonjak 27,5% year to date. Demikian pula saham pertambangan melejit 17,1%, seiring menguatnya harga komoditas. Namun demikian, dengan indeks yang sudah tinggi tersebut, investor jangan ‘main tabrak’ memburu saham yang harganya sudah membubung tinggi. Investor justru harus berhatihati agar bisa meraih keuntunganlebih tinggi, tidak terperosok.

Pertama-tama, investor harus jeli melihat peluang untuk membeli saham- saham yang masih murah, yang fundamentalnya bagus. Saham-saham unggulan yang valuasinya masih murah itu antara lain adalah BUMN sektor infrastruktur serta konstruksi dan properti, seperti saham PT Wijaya Karya Tbk, PT PP Tbk, PT PP Properti Tbk, dan PT Jasa Marga Tbk.

Hal itu karena perusahaan pelat merah lagi kena isu miring, arus kasnya dikhawatirkan terganggu karena mengerjakan proyek pemerintah yang berjangka panjang. Padahal, isu ini tidak benar, bahkan kinerja BUMN terus berkibar, seperti PP Properti yang meraih penjualan Rp 2,33 triliun hingga akhir kuartal III-2017, naik 60% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Sementara itu, berdasarkan data perdagangan BEI, price to earning ratio (PER) Wijaya Karya yang berkode saham WIKA kini juga tinggal 18,21 kali, seiring harganya yang hanya Rp 2.050 per unit atau turun 13,14% secara year to date. Padahal, di sektor ini, PER emiten swasta seperti PT Totalindo Eka Persada Tbk mencapai 72,5 kali. Sedangkan secara sektoral, indeks properti, real estate, dan konstruksi bangunan masih minus 0,1% year to date.

Untuk indeks saham sektor infrastruktur, utiliti, dan transportasi juga hanya tumbuh 8,4% sejak awal Januari lalu, masih di bawah laju pertumbuhan IHSG sebesar 13,8%. Pertimbangan kedua dalam membeli adalah sahamnya likuid, seperti saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Dengan membeli saham yang likuid atau banyak diperdagangkan, kita leluasa masuk dan juga gampang keluar (dijual).

Ketiga, fundamental sahamnya harus bagus. Emitennya, antara lain, memiliki rentabilitas atau kemampuan mencetak laba tinggi. Selain itu, perusahaan memiliki likuiditas yang baik untuk membayar kewajiban jangka pendeknya, demikian pula solvabilitas atau kemampuannya untuk membayar utang jangka menengah dan panjang.

Keempat, manajemen perusahaan juga harus baik dan kredibel, tidak hanya sistemnya yang baik. Perusahaan harus menerapkan good corporate governance (GCG).

Kelima, potensi pertumbuhan bisnisnya masih tinggi di Indonesia, seperti di sektor perbankan, infrastruktur, serta konstruksi dan properti. Penetrasi perbankan di Tanah Air hingga kini masih rendah dibandingkan dengan negara tetangga, sehingga masih memungkinkan perbankan tumbuh lebih besar. Kredit perbankan kita misalnya, hingga semester I lalu baru sekitar 34,8% dari produk domestik bruto (PDB) yang sekitar Rp 13 ribu triliun.

Padahal, di Malaysiasudah lebih dari 100% PDB-nya. Dengan potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang membesar, IHSG juga masih berpeluang menembus level psikologis baru 6.500 di sisa waktu sekitar 2 bulan atau 60 hari ini. Apalagi, harga komoditas minyak sawit dan batubara yang menjadi andalan ekspor kini menguat, belanja pemerintah terutama infrastruktur mengucur deras menjelang akhir tahun, serta bunga kredit masih tren turun. Bank Indonesia (BI) pun memperkirakan ekonomi nasional tumbuh lebih baik pada kuartal IV-2017, menguat ke 5,4% dibanding kuartal I dan II lalu yang hanya 5,01%.

Dengan demikian, kinerja emiten ke depan bakal makin cemerlang, yang akan mendorong kembali harga-harga saham naik. Tentu saja, saham infrastruktur serta konstruksi dan properti yang masih undervalued kian layak dikoleksi, sesuai hukum dagang buy low sell high.


Investor jangan justru membeli saham yang harganya sudah tinggi, yang kemungkinan sebentar lagi terkoreksi. Jangan pula bermental gerombolan (herd mentality), yang membeli saham hanya karena melihatnya ramai diburu. (*)
🌼
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Postur Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 diperkirakan bakal berdampak pada beberapa sektor saham.
Mengacu penerimaan negara yang dipatok Rp 1.894,7 triliun, Kepala Riset OSO Sekuritas Riska Afriani menilai, saham sektor konsumsi akan terdongkrak. Menurutnya, untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi pemerintah di 5,4%, mesti didominasi oleh konsumsi yang di atas 50%.
Selain itu, anggaran proyek infrastruktur naik 2,39% sebesar Rp 410,7 triliun dari APBN tahun lalu senilai Rp 401,1 triliun. Hal ini akan berdampak pada saham sektor konstruksi sebab erat kaitannya dengan infrastruktur. “Jadi, ketika pemerintah meningkatkan biaya infrastruktur tentunya ini juga akan impactnya kepada konstruksi yang sedang berjalan,” jelas Riska.
Riska menyatakan, tahun ini, memang saham konstruksi memperlihatkan reli. Kinerja perusahaan juga menunjukkan hasil yang positif. Masing-masing sektor konstruksi saat ini memiliki fokus yang berbeda dan melengkapi satu sama lain. Misalnya, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) mamiliki visi untuk menjadi salah satu perusahaan EPC. PR Adhi Karya (ADHI) mengembangkan hunian berkonsep TOD. Sementara, PT PP Tbk (PTPP) optimistis menjadi perusahaan jasa konstruksi dan investasi terbesar.
“Saya lihat untuk ke depan sektor konstruksi masih akan berlanjut rebound,” jelasnya.
Meski demikian, ia menyarankan agar investor menahan diri untuk masuk ke sektor konstruksi. Pasalnya, meski harga saat ini terbilang bagus, tapi rentan aksi profit taking. Waktu yang tepat untuk membeli saham tersebut dua sampai tiga hari setelah profit taking. “Kita cicil beli, takutnya ada profit taking lanjutan,” saran Riska.
Berikut potensi kenaikan sejumlah saham konstruksi menurut OSO Sekuritas:
1. WIKA berpotensi ke level Rp 2.750.
2. PTPP berpotensi ke level Rp 3.500.
3. ADHI berpotensi ke level Rp 2.660.
4. WSKT berpotensi ke level Rp 2.830.
🍋
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dana yang dianggarkan untuk proyek infrastruktur pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar Rp 410,7 triliun. Angka tersebut naik 2,39% dari tahun lalu senilai Rp 401,1 triliun. Kenaikan belanja pemerintah berdampak pada pasar saham, terutama sektor konstruksi.
“Saya rasa itu akan mempengaruhi terutama dari sektor konstruksi yang memiliki proyek banyak, tapi yang dikawatirkan adalah bagaimana pendanaannya,” kata Analis Samuel Sekuritas, Muhammad Alfatih, Kamis (26/10).
Ia menilai, dengan disetujuinya APBN 2018, kekhawatiran tersebut sudah terjawab. Dengan adanya APBN akan lebih meyakinkan pelaku pasar. Namun, tantangan yang memberatkan pelaku pasar adalah seberapa jauh anggaran tersebut bisa terpenuhi, sekaligus dikaitkan dengan perolehan pajak.
Selain sektor konstruksi, Alfatih melihat, kenaikan anggaran proyek infrastruktur juga berdampak baik pada sektor sektor semen, dan perbankan. Sektor perbankan juga terpengaruh dampak positif APBN 2018. “Karena banyak dana melalui perbankan,” paparnya.
Saham yang terkait dengan infrastruktur menguat tajam setelah ada persetujuan APBN. Rata-rata saham konstruksi besar meningkat. Misalnya, PT Jasa Marga Tbk (JSMR) sempat naik 5%, lalu PT Adhi Karya Tbk (ADHI) naik 5,63% pada Rabu (25/10).
Kenaikan pada sektor konstruksi secara tidak langsung berdampak pada saham-saham semen. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatatkan kenaikan sebesar 1,38% pada Kamis (26/10). Saham PT Waskita Beton Precast (WSBP) juga naik tipis 0,97%.
Namun, PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk (INTP) terkoreksi 4,69% setelah kemarin naik cukup tinggi 12,6%. Pelemahan juga ditunjukkan PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) 0,75% setelah naik 4,72%, kemarin. Namun, Alfatih menilai, koreksi yang terjadi wajar setelah naik cukup tinggi. “Kalau ada koreksi katakanlah tiga sampai lima persen itu kesempatan baik untuk melakukan pembelian,” katanya.
Berikut proyeksi Alfatih terhadap harga saham konstruksi dan semen yang terkena dampak positif APBN:
1. WTON masih ada potensi penguatan lebih lanjut ke level 730. Hari ini ditutup pada level 660.
2. WSBP perlu membuktikan kemampuan untuk melampaui resistance. Jika terlampaui target berikutnya di level 440. Hari ini, harga saham ditutup pada level 418.
3. INTP sudah mencapai target jangka menengah sehingga berkemungkinan koreksi. Untuk jangka panjang ada potensi ke level 22.500. Hari ini, saham ditutup pada level 20.825.
4. SMGR dilihat sudah berada di level-level tertinggi. Jadi, akan ada tantangan untuk melanjutkan kenaikan dengan potensi ke level 11.400. Hari ini, saham ditutup di level 11.025
5. PTPP ada tantangan untuk melanjutkan kenaikan di sekitar 3.100. Perdagangan hari ini ditutup pada level 2.940.
6. WSKT kemungkinan koreksi karena berada di level resistance. Jika mampu menembus level resistance, potensi kenaikan berlanjut ke arah 2.350. Saham hari ini ditutup pada level 2.250.
7. WIKA sedang menguji level resistance dari 2.050 potensi kelanjutannya di level 2.200.

Comments